Entah sudah berapa banyak orang
menulis dengan tema tersebut, bisa milyaran atau bahkan tidak terhitung. Saya
yakin setiap manusia pasti punya pengalaman pribadi dengan Penciptanya yang
saya yakini kembali tidak hanya terjadi sekali. Bisa berkali-kali bahkan jutaan
kali bahkan setiap hembusan nafas yang lagi-lagi tidak bisa dihitung.
(image courtesy : http://nancyradlingerjustmyopinion.com/)
Pagi ini, seperti biasanya, saya
berangkat bekerja bersama suami, menaiki motor yang belum genap setahun umurnya.
Berangkat dari rumah kami yang belum genap setahun juga kami tempati. Tujuan kami
adalah halte busway Ragunan. Dekat halte tersebut kami menitipkan motor
kemudian berpisah untuk menaiki moda transportasi yang berbeda dengan tujuan
yang berbeda pula. Suami menggunakan kopaja AC S 602 jurusan Ragunan-Monas dan
turun di halte BI. Sedangkan saya
menaiki busway jurusan Ragunan-Dukuh Atas kemudian turun di halte Halimun.
Sepanjang perjalanan saya susah
sekali untuk bisa tidur seperti orang kebanyakan. Biasanya, yang saya lakukan
adalah memasang earphone mendengarkan music yang sedang saya ingin dengarkan
dan memantau situasi followers dan followings terkini di Instagram dan Path (whoopsie... :D). Saya jarang membuka portal
berita karena paginya saya sudah cukup melihat berita di Liputan6 Pagi.
Bosan dengan music dan aplikasi social,
saya lepas earphone, memasukkan hp kedalam tas, kemudian melihat situasi dalam
busway, penuh sesak tetapi penuh dengan orang yang punya ambisi dan tujuan
hidup sehingga itu yang terus membuat orang-orang ini rela berdesak-desakan di
dalam busway. Termasuk saya, masih banyak hal yang ingin saya raih dalam hidup
ini.
Saat saya mengamati jalanan yang
dilalui busway ini, saya memperkirakan 10 menit lagi saya akan sampai di
kantor. Dan dalam 10 menit itu, saya berpikir, apa yang ada di pikiran owner
perusahaan tempat saya bekerja untuk membeli gedung di Halimun? Apa karena strategis?
Harganya yang reasonable?
Kemudian bagaimana bisa akhirnya
saya dan suami memutuskan membeli rumah di Ciganjur? Salah satu alasannya
karena Ciganjur dekat dengan halte busway Ragunan sih.
Kembali mengenai, owner
perusahaan itu, what was on his mind or his wife mind gitu ya? Masih mengganggu
pikiran saya.
Apa karena Tuhan sudah tahu
sebelumnya, bahwa “suatu saat” akan ada salah satu karyawan si owner yang akan memliki rumah dekat halte
busway Ragunan? Atau Ia “sengaja mendorong” 1 developer mendirikan cluster kecil
di Ciganjur? Yang kemudian di tengah lelahnya kami mencari rumah akhirnya kami
menemukan cluster tersebut. Mana yang lebih dulu? Level pertanyaan ini sama
dengan pertanyaan klasik : mana yang
duluan ayam atau telur? Hahaha!
Apakah Tuhan sudah “mengorganize”
hidup kami sedemikian rupa? Pasti dan tentunya dengan cara yang misterius!
Saat ini saya menyadari bahwa apa
yang dulu kami pertanyakan, kuatirkan
dan kami sampaikan melalui doa-doa, sudah dijawab.
Saya, anda
dan kita tidak akan pernah tahu jalan-jalanNya yang sudah ditentukan untuk kita
lalui di hari, besok, lusa dan seterusnya. Yang saya tahu, ketika kita
melakukan bagian kita maka Tuhan melakukan bagian-Nya dengan cara yang
misterius!
Ndy
(lagi
bener otaknya!)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar