Sejak kecil saya suka di rumah. Menurut saya menonton tv atau membaca majalah, komik, novel, di rumah lebih enak daripada bermain diluar bersama teman-teman sepantaran saya. Teman pun tidak banyak, yang saya kenal baik sampai saya tahu keluarganya, hanya beberapa. Kalau yang cuma sekedar kenal nama dan wajah, banyak! Karena untuk mengenali org hanya dari nama dan wajah, saya punya memori yang cukup kuat (menurut saya).
Sampai saat saya remaja pun, saya lebih suka di rumah, termasuk ketika memiliki "pacar monyet" ('kan cintanya cinta monyet). Lebih suka si pacar datang ke rumah daripada diajak makan di luar atau nonton di bioskop. Entah kenapa, saya suka di rumah! Dan tidak suka dengan keramaian.
Mungkin hal inilah yang menjadikan saya sebagai pribadi yang tertutup dan tidak mudah bergaul.
Saat kuliah, sedikit-sedikit saya harus mau membuka diri terhadap orang lain. Apalagi background teman-teman kuliah saya bermacam-macam. Ditambah lagi dengan yang namanya pengaderan mahasiswa baru, Tahun Pertama Bersama (TPB) dan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK). Wah, mulai deh mau tak mau harus kenal sana dan sini. Dan saya pun "sedikit" agak terbuka, mulai kenalan sana sini dan mulai punya teman dari jurusan dan angkatan yang berbeda. Ternyata punya banyak teman, asyik juga. Bersosialisasi itu fun! Tapi tetap saja, saya lebih suka di kost!
Sesaat setelah saya lulus dan mulai bekerja, bekerja di luar kota dan sempat berpindah-pindah tempat kerja dan tempat kost. Hal yang menurut saya, capek tetapi tetap harus saya lakukan karena saya memang harus bekerja. Berpindah-pindah demikian, tetap membuat saya tidak terlalu suka dengan yang namanya sosialiasi. Lingkup pergaulan saya cuma : rumah/kost - kantor - gereja. Nothing special.
Sampai akhirnya saya menikah dengan pacar yang sudah dipacari selama 6.5 tahun. Yang lulusan S2 dari Swedia. Yang saya kenal awalnya, pribadi yang tertutup, yang lingkup temannya lebih sedikit daripada saya. Tapi saat dia kuliah S2-nya itu, dia menjadi pribadi yang sangat suka bersosialisasi, suka bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, datang ke acara-acara yang berbau sosialiasi, datang ke even-even di kota Stockholm, pendek kata : He'd change!!! (in a positive way).
Kalau saya ingat-ingat lagi, saya mau menangis sekaligus tertawa. Bagaimana tidak, saya sudah seharian bekerja dan saat di rumah saya hanya ingin menyalakan komputer dan mengaktifkan Yahoo Mesenger untuk melepas kangen saya terhadap dia yang jauh disana. Tetapi seringkali, apalagi saat weekend, dia sudah ada rencana dengan teman-teman mahasiswa Indonesia lain disana. Huuufttt! Benci tapi saya harus memahami "perubahannya".
Kebiasaan suami bersosialisasi pun berlanjut saat dia sudah bekerja diJakarta, dan dia mulai menginfluence saya untuk gabung dengan kegiatan sosialiasinya. Mungkin menurutnya, itu sebagai jalan tengah daripada saya sendirian di rumah dan cerewet karena menunggu dia pulang kelamaan. Nice Try! Beberapa kali saya suka ikut dan gabung, tapi pernah juga sudah sampai depan venue-nya, saya tidak mau masuk, hahaha! Dan sering juga saya tolak karena tetap saja bertemu dan berkenalan dengan orang baru, sedikit agak gimana gitu.....
Saya tetap akan berusaha bersosialisasi,seperti keinginan suami tapi untuk bisa berubah menjadi orang yang benar-benar berubah menjadi "suka bersosialisasi" dan kemana-mana, it takes time.... ;-)
-love being safe @ home, 071011-